Ratik merupakan material sisa nang kada dikahandaki lagi imbah tuntung suatu proses. Ratik merupakan didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sabujurnya kada ada konsep ratik, nang ada hanya produk-produk nang dihasilkan imbahnya dan sawayah/salawas proses alam nangitu balangsung. Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka ratik kawa dibagi menurut jenis-jenisnya.
Review Buku
Merasakan di tempeleng Realitas lewat Urang Banua di Banua Urang
Setelah debatnya dalam Jaziran Cinta, Randu Alamsyah kembali menorehkan penanya dalam Buku Kumpulan Esai Bilik Sunyi berjudul ‘Urang Banua di Banua Urang’ terbitan Mingguraya PRESS, April 2011. Eksistensi seorang penulis di Ranah Jurnalistik kerap kali membuahkan perselisihan paham antar pembaca dan pihak yang bersangkutan. Sehingga pro dan kontra selalu terjadi dan tak bisa ditepiskan. Namun kali ini, dalam kumpulan esai Bilik Sunyi –Kolom Esai di harian Radar Banjarmasin- Randu seakan menjelaskan bahwa sebenarnya perselisihan paham tersebut terjadi dikarenakan beberapa kalangan yang tidak paham. Pula tidak tidak mengerti apa itu arti demokrasi. Demokrasi itu tak ada habisnya. Seperti petikan kalimat pembuka dalam bukunya, “Di Indonesia, kita menjadi benar bukan karena pilihan kita benar, tetapi bagaimana kita bisa mati-matian melakukan pembenaran atas pilihan kita…” bisa jadi, pembaca akan berpikir dan membenarkan keadaan Indonesia yang sering kali di warnai dengan berbagai macam pembenaran atas berbagai pilihan rakyat.
Saya nekat mengahabiskan membaca buku ini dalam satu malam karena penuturan bahasanya. Nyaman, hanyut, dan mudah dimengerti oleh berbagai level pembaca. Seakan terlarut dan mengiyakan saja apa-apa coretan Randu yang sependapat dengan pendapat kita. Esai yang berjudul ‘Surat untuk Saudaraku, Calon Pemimpin’ memberikan sudut pandang unik esai bergenre surat dari segelintir esai yang beraroma politik. Ketolol-tololan Randu dalam menulis surat untuk pemimpin mampu mewakilkan perasaan pembaca tingkat awam dan merenungi tentang pemikiran rakyat Banua. Seperti yang ada pada hal. 1 “Kutulis surat ini penuh kesungguhan, saudaraku. Kami senantiasa mengagumi niat baik kalian untuk menyejahterakan kami, para rakyatmu ini terlalu sibuk member makan anak-anak kami hingga tak sempat member kalian aplaus, barang satu dua tepukan. Yang bisa kami lakukan hanyalah menatap haru wajah-wajah kalian yang terpampang dengan gagahnya di setiap sudut kota kehidupan kami. Selebihnya kami harus bertarung lagi dengan hari-hari yang mendesak kami”. Ini terbukti dikala musim pemilu mendatangi kita, para rakyat mau tak mau harus disibukkan dengan berbagai aktifitas pemimpinya. Seperti Bakti Sosial yang di selenggarakan oleh tim-tim sukses, pembagian kaos, orkes melayu, orkes dangdut bertaburan bintang, juga perihal uang yang selalu membayang-bayang. Setelah musim tersebut berlalu, keadaannya kembali adem ayem seperti sedia kala. “Turunlah kesini, saudaraku. Duduklah disamping. Berbincanglah dengan kami. Berbicaralah dengan logika yang biasa-biasa saja. Bagi kami, mudah saja saudaraku, sekadar kami punya beras untuk makan sehari-hari dan punya biaya untuk sekolah anak-anak kami. Mengenai kesehatan, biarlah Tuhan yang maha penyayang tempat kami menyandarkan penyakit-penyakit kami”. (hal. 4).
Membaca kumpulan Esai Bilik sunyi Randu, membuat para pembaca mengingat-ingat masa dimana keseharian kita yang penuh dengan poster para calon pemimpin, “Bisa Anda lihat bukan hanya poster-poster, spanduk-spanduk, pamphlet-pamflet, pengumuman, selebaran, Koran-koran, parade gambar memenuhi wajah kota menempel di dinding, di pagar mesjid, di batang-batang pohon, di sepanjang jalan, di gang-gang, pintu masuk WC. Dimana-mana gambar calon pemimpin. Bahkan saya percaya, gambar-gambar ini juga telah merasuk ke dalam mimpi-mimpi kita, menjadi bagian dari spontanitas ekspresi kita. Menjadi isu, symbol, analog, karikatur, yang tidak ada habis tatkala memperbincangkan tema apapun. Pemimpin, kepala daeraaaaaahh…melulu” (Fana Fii Foster Femimfin, hal. 14). Walau Bilik Sunyi Randu kadang berbicara tentang perpolitikkan, tetapi tek sesunyi namanya, “Urang Banua di Banua Urang” Ramai akan berbagai tema sosial, ekonomi, budaya, Negara, sepakbola, internasional, agama, cinta, bahkan psikologi. Menelusuri lebih dalam tulisan Randu mengingatkan pada pendidikan yang biasa diterapkan di Pesantren. “That’s Politic”, salah satu judul esai yang berbahasa inggris. Gaya bahasany mirip sanad dan rawi (periwayat hadist) pada kitab-kitab hadist. Pada hal. 33 disebutkan, “Kebetulan saya tadi lewat di rumahnya si Umar saya dengar katanya si Amir berdasar omongan si Umir yang dikutip Amar atas laporan Imar dari ceritanya Amor yang dikisahkan si Emer menirukan pendengaran Omur, calon dari negeri kaya tambang itu sebenarnya bukan jagoan yang sesungguhnya. Ia sudah kalah sebelum pemilihan dimulai. Ia sudah tahu tidak mungkin memenangi peperangan tetapi ia tetap maju. Tujuannya satu : Untuk lebih mengukuhkan kekalahannya atau lebih mengukuhkan kemenangan musuhnya…”. Hal ini dijelaskan randu dengan bahasa yang sevulgar-vulgarnya tentang perpolotikan dengan wujud setelanjang mungkin.Randu memberikan kualitas masyarakat dalam menerima kebijakan-kebijakan yang sedang ramai-ramainya berkoar dikalangan birokrat. Seperti maraknya media massa memberitakan perihal pangeran atau kesultanan. Demikian pula Khotbah-khotbah jumat pada era pemilukada. Sering kali diisi dengan berbagai macam genre khotbah, seperti eksentrik, mengharukan, berapi-api, dan berkampanye.
Jikalau anda ingin mengetahui bagaimana perasaan atau pendapat masyarakat tentang korupsi, anda dapat menyimak pada esai yang berjudul “ Dilarang Korupsi! (Kecuali saya kecipratan). Siapapun dari kalangan apapun seperti berusaha membenarkan atas berbagai pilihan gelap. Meski demikian keterlibatan penulis di sini memberikan efek satire yang samar dan halus. “Kita bebankan Harapan kita pada anak-anak muda. Bagaikan veteran, kita yang bahkan belum pernah turun bertempur ini, memekikkan kata reformasi di telinga anak-anak muda yang lugu-lugu karena belum pernah ditempeleng oleh realitas. “(hal. 48)
Esainya mampu mebius dan mepunyai daya pikat perasaan para wakil rakyat juga rakyat. Pada dasarnya setiap manusia bisa berpikir sederhana. Namun, sesederhananya pemikiran Randu mampu melahirkan coretan yang berharga. “Mau jadi anggota walikota, bupati, gubernur? Keciiil. Pragmatis yang ada duit lebih pun bisa. Tak usah bikin poster, ngapain pake kartu nama. Taks usah bagi sarung, apalagi sumbang batu bata dan bola voli. Cukup anda bangun jam 6 subuh, terus hamburkan karung. Selesai.” (hal. 27), lalu kita akan bergumam dalam hati, “benar! Itulah politik”. Berbagai masalah, kebijakan-kebijakan pemerintah, seakan menjadi tolak ukur penilaian masyarakat dalam budaya keseharian.
Demikian pula, Urang Banua di banua merupakan esai bergenre cerpen. Menceritakan tentang seorang sahabat satu daerah melawan musim paceklik perekonomian di daerah orang. Berjuang mempertahankan kehidupan demi sesuap nasi. Dangkalnya pengetahuan agama seseoarang akan tampak ketika ujian besar menimpanya. “Apakah aku pergi saja dari sini teman? Orang-orang sudah sepi. Kayak tidak ada lagi yang butuh pengajian agama disini. Terus terang, disini aku sedang kesulitan biaya, teman. Ingin sekali aku berhenti mengajar dan ikut menambang emas. Tetapi apa kata orang-orang yang selama ini kuajari untuk zuhud? Padahal aku juga butuh hidup seperti yang lain, teman. Aku juga perlu penghasilan untuk membiyai hidup, aku juga butuh berumah tangga untuk menenangkan pikiranku.”(hal. 74). Inilah yang terjadi di saat orang-orang ramai berdepat di forum-forum terhormat. Tentang siapa sebenarnya Urang Banua. Masa-masa kampanye calon pemimpin yang menggaung bising betapa bangganya menjadi Urang Banua. Ternyata, di tempat yang tidak terkira tanahnya, ada urang banua sedang mengadu dan merenungi nasib, tidak disapa oleh banuanya sendiri.
Hal ini menampakan kreativitas lahir disaat ramainya perpolitikan yang sebentrar lagi akan kita temui kembali. Kembali tenggelam dalam poster pemimpin, Insfiratif, penuh pro-kontra. Ramadhan yang menggulingkan perekonomian. Kadangkala menyuarakan rakyat yang menyatakan kebijakan mengikat angin. Tanpa ada rasa tanggung jawab oleh kalangan yang disinggung. “Hidup ini gampang saja. Mau terdepan pake yamaha. Mau bersemangat, minum coca-cola. Mau pede pake saja rexona. Sederhana aja kok. Yang penting hapalkan Pancasila.” (hal. 27). Kumpulan Esai Bilik Sunyi Randu bisa menjadi bahan pemikiran kritis terhadap keadaan birokratis. Tak ada salahnya, jika kita ingin merasakan bagaimana rasanya di tempeleng oleh realitas kita sendiri dalam keseharian. Bermasyarakat, bertetangga, berbangsa, dan bernegara. []
Puisi
1. Selamat Jalan : Eza Thabry Husano
umur tak berbau
jasad tak bergaung
hidup tak selama
mati pun tak jua bisa di pinta
dikala manusia lelah dengan lingkaran-lingkaran nafas
malam selalu bisa diminum dengan bumbu jebul asap rokok para pegiat hitam diatas putih
kini, rumah dipojok kota
menggaung riuh gemuruh alunan ayat suci meniup layarnya
selamat jalan
semoga perhelatan
menjadi pelajaran kami yang masih belajar hidup
Selamat hidup di kehidupan yang sebenarnya
2. Kematian
Ia lah yang memperlihatkan dan mendatangkan kabar titian manusia
Ia mengadakan awan mendumg dan menciptakan guruh guntur dikala sepi
Ia pula yang mengatur guruh tasbih serta buah puji kepada-Nya
Ia, Qudrat Iradat-Nya,
Sutradara atas segala Skenario dunia
hanya bagi-Nya pengembalian manusia, malaikat, jin, dan segala makhluk
hanya bagi-Nya pengabulan doa-doa manusia lemah tak berdaya
Ia, yang Maha Segala
kematian, perpindahan seseorang dari dunia fana ke alam baqa yang tak satu orang pun dapat menggambarkannya
kematian dalam kekuasaan-Nya
3. Wasiat
Dua Amplopmu kini tergeletak di bawah bingkai kepenyairanmu.
Perawakan bertopi khas seniman dalam bingkai,
kaca mata dah shal melilit dileher menjadikan pesan akan eksistensimu dalam karya
lukisan kehidupan, relung zaman, mengimbau kami semua agar saling berwasiat
kelak namamu akan selalu kami sebut dalam penghargaan tiada tara
cahaya kepenyairanmu selalu dibicarakan dalam ranah sastra
pengabdianmu menjadi sumbangan amal jariyah di sya’ban yang penuh berkah
Ramadhan menanti
kepenyairanmu mati
tadarrus sebentar lagi
namamu harum menghiasi pergantian sunyi
bukumu kan terbit di remahan pejanji
amal ibadahmu kan mengalir di hari-hari negri
kita tinggal menunggu
namamu tertulis rapi
sesaat lagi
Cerita Sampah
Walau cuma kelihatannya bukan sampah, isinya tetap saja sampah. Sampah-sampah ini lah kelak yang akan saya daur ulang menjadi sampah dengan dekorasi masa kini berbentuk sampah. Pertama-tama, sampah kita ambil dari sampah-sampah yang biasa nongkrong ataupun menempel pada sampah yang berada ditempat sampah. Tempat sampah tidak hanya anda temukan di tempat sampah saja, namun anda juga bisa temukan dikamar sampah, bilik sampah, kamar sampah, ruang sampah, dapur sampah, gedung sampah, rumah sampah, bahkan dunia sampah. Semua ada sampah. Sampah mau sampah. Ya, suka-suka sampah dong mau menulis sampah, atau berkata sampah. Tapi, kalau sampah mau, sampah juga bisa nyampah dengan sampah serapah. Sampah kedua, setelah kita masukkan ke dalam sampah, maka sampah kita gulung sampai berbentuk sampah. Agar sampah dapat digunakan dengan baik, maka sampah harus dilipat berbentuk sampah. Ketiga, sampah yang sudah agak sedikit sampah kita silangkan lalu dihiasi sampah. Tinggal sedikit adonan sampah lagi, lalu kita celupkan sampah tersebut ke dalam sampah, maka jadi lah sampah yang sempurna. Nah, demikian pula, sewaktu sampah sedang diwawancarai oleh beberapa sampah yang menyodorkan berbagai jenis sampah ke mulut sampah, ia berkata, “buanglah sampah pada tempat sampah, dan sampah harus basmi sampah-sampah yang ada dinegeri sampah ini, agar tak ada lagi sampah-sampah yang merajalela dan melarikan diri dari jerat hukum sampah” ujar sampah. Konferensi sampah pun bubar seketika. Disambut gemuruh sampah yang mendukung kepala sampah yang akan menaiki mimbar sampah.Sejenak, sampah-sampah yang bertebaran dihalaman istana sampah terdiam seperti sampah. Kepala sampah lalu membuka pidatonya “Sampah-sampahku sekalian, marilah kita dukung sampah yang sebentar lagi akan tiba, maka seyogianya lah sampah-sampah yang telah lalu, tidak usah kita permasalahkan. Bagaimana, sampah? Setuju!”
“setuju sampaaaaah,” sahut sampah yang berhamburan itu.
“ehm, mengenai sampah yang melarikan diri, sampah tak bisa banyak berkata sampah. Kita doakan saja semoga sampah yang melarikan diri ke berbagai negeri sampah, bisa kembali ke negeri kita dengan sampah. Semoga dengan kedatangannya negeri kita dapat menuai kinerja sampah yang baik, sampah, dan tetap sampah. Sampah ucapkan kepada sampah sekalian rasa sampah yang sangat mendalam. Sampah harus bangkit. Bagaimana?”
“Setuju sampaaaaah!!!”
“Sampah jaya”
“Jaya sampaaaah”
“hidup sampah”
“HIDUUUUP SAMPAAAAH” ujar para sampah menyahut pidato dari kepala sampah. Sampah pun menyudahi pidatonya dengan membuang sampah di sekitar sampah-sampah yang sudah disampahkan. “baiklah, cukup disini sampah dari saya. Sekian dan terima sampah.” sampah pun pulang dengan perasaan sampah disampahinya. Malam ini penuh dengan sampah. Sebentar lagi waktunya sampah, kalau tidak sempat sampah, nanti sampahnya malah salah tingkah. Ya sampahlah, sampah memutuskan untuk sampah saja. Tiba dijalan sampah, gang sampah, nomor sampah, ia terkejut, mengapa banyak sampah dihalaman sampahnya. Sampah melangkah perlahan menuju pintu sampah. Ia heran, tak ada satu pun sampah di didalam. Ia langsung menuju kamar sampah, duduk didepan layar sampah dan masuk ke dalam dunia sampah. Sampah membuka beranda sampah. Huh, ternyata banyak sampah. Namun ia terkejut, sampah siapa ini,ada catatan namanya catatan nyampah? Sampah bingung dan membukanya. Setelah selesai membaca sampah, sampah tertawa sendiri sambil geleng-geleng kepala, “gila sampah ini, kok bisa-bisanya dia bikin sampah seperti ini” sampah tercengang. “Sialan, dia berhasil menipu sampah. Nanti kelak suatu sampah, akan aku sampah kau” ujar sampah sambil tertawa dihadapan layar sampah. Sampah berbaring disampah. Lagi-lagi ia teringat akan perkataan sampah sewaktu kepala sampah berpidato di Istana sampah. “sekian dan terima sampah.” Sampah tak habis pikir, mengapa ia harus terima sampah. Bukankah iya sudah banyak mempunyai sampah. Apa maunya kepala sampah itu? Gumam sampah dalam hati. Lalu ia mematikan lampu dan berucap. “Sekian dan terima sampah, SAMPAH!”
Sampah terbangun mendadak karena mimpi sampah. Keringatnya penuh dengan sampah. Rupanya hawa sampah sedang menyelimuti sampah. Segera saja sampah bangun dan mandi sampah agar segar dan tak tersampahkan lagi. Lalu sampah menunggu sampah-sampahnya dirumah membangunkan sampah yang lainnya. Lama sekali sampah menunggu. Ia bosan sampai menghisap sampah. Saking tidak sabarnya sampah keluar rumah dan bertemu dengan kalangan sampah. Namun aneh, menurutnya kalangan sampah itu berjalan seperti sampah-sampah yang sudah tidak terpakai lagi. Seperti sampah-sampah yang sudah tidak dibuang ketempat sampah lagi. Sampah berjalan berbalik arah melawan arus kalangan sampah. Sampai pada suatu jalan sampah, ia berhenti. Ia melihat seorang anak sampah yang mengorek-ngorek bak sampah. “Sedang apa sampah itu” tanya sampah kepada sampahnya sendiri. Ia mendekat. Ia menepuk sampah itu. Tiba-tiba, sampah itu lari tersampah-sampah sampai menabrak tiang sampah, “dasar sampah yang aneh,” ujar sampah kembali ke dunia sampah.
Taufik Arbain Ajak Seniman Kalsel Diskusi Tentang Sanggar Kesultanan
Pada acara buka puasa bersama KSI (Komunitas Sastra Indonesia), Kamis, (25/08), di Taman budaya, Taufik Arbain yang mengaku sebagai Politik Budaya mengungkapkan bahwa Dewan Kesenian Kab. Banjar itu vakum, “sebelumnya sudah usulkan agar segera dibentuk dan dirembukan bersama tentang Dewan Kesenian Banjar yang selama ini stagnan” ujarnya. Seharusnya, tambahnya lagi, upaya-upaya untuk menghidupkan kesenian di Kabupaten Banjar itu bisa terealisasi dengan seksama, tidak terlunta-lunta dan terbengkalai seperti yang diberitakan belakangan ini. “Ada keinginan dari sebagian pihak Kab. Banjar supaya kesenian dan kebudayaan untuk kembali dihidupkan,” tuturnya. Beliau mengeluhkan perihal salah satu komunitas seni yang memberikan pernyataan di media bahwa Dinas Pariwisata tidak membantu dalam hal materi. “saya tak habis pikir mengapa mereka bisa berkata itu di media publikasi. Memangya, sudah mengajukan proposal?” jelasnya dalam diskusi. Menurutnya, hal yang sedemikian hanyalah sedikit konflik pribadi yang terjadi antara pihak yang berwenang, “kalau orang birokrasi itu dipukul maka akan ada dampaknyanya. Saya kira kita akan punya bahasa yang lebih santun untuk menyampaikan uneg-uneg kita kepada kalangan birokrasi,” tambahnya. Mengenai perihal adanya sanggar dikesultanan Banjar, beliau mengungkapkan Sanggar tersebut merupakan perkumpulan agar bisa menampung kenyamanan dalam kreatifitas tertentu, “sudah saya sampaikan, kapan kita bisa duduk bersama antara semua seniman Kalimantan Selatan dan pihak kerajaan untuk bisa berkomunikasi dengan baik, siapa tahu diantara beberapa seniman berminat untuk masuk dalam tim kesenian istana,” pungkasnya.
Alhamdulillah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Ramdhan disambut dengan rasa bahagia dan gembira oleh muslimin dan muslimat diseluruh belahan dunia. Berbagai tausiah di koarkan disana dan disini. Program-program televisi penuh dengan kesan religi. Maka dari itu, tak sedikit pula dari kalangan pedagang yang senang datangnya Ramadhan dengan berbagai sudut pandang.
Saya pernah mendengar satu cerita dari salah seorang ulama. Suatu ketika pada awal-awal dibulan puasa. Tiga orang ibu-ibu ditanya oleh ulama…dulillah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Ramdhan disambut dengan rasa bahagia dan gembira oleh muslimin dan muslimat diseluruh belahan dunia. Berbagai tausiah di koarkan disana dan disini. Program-program televisi penuh dengan kesan religi. Maka dari itu, tak sedikit pula dari kalangan pedagang yang senang datangnya Ramadhan dengan berbagai sudut pandang.
Saya pernah mendengar satu cerita dari salah seorang ulama. Suatu ketika pada awal-awal dibulan puasa. Tiga orang ibu-ibu ditanya oleh ulama…
Selamat Datang
Selamat datang di Ratik Pondok. entah, apalah maksud kedatangan anda kemari. ini ahri pertama saya hidup dan bernafas di dunia maya. saya ingin berbagi berbagai cerita, keluh,kesah, rasa, ataupu lain hal sebagainya. sastra boleh juga. atau sekedar menyampaiakan hasil pemikiran. pendapat pribadi pun tak apa. yang penting eksis dan sedikit nyastra. Maklumlah, kalau agak sedikit ketolol-tololan. Karena saya hanya remah-remah pondok pesantren yang sudah ditinggalkan.